Haji termasuk kepada rukun islam yang kelima dimana
seseorang dituntut untuk melaksanakannya jika mampu, sama halnya dengan
ibadah-ibadah yang ada dalam rukun islam memiliki syarat, rukun, dan hukum yang
penting untuk kita ketahui. Maka dari itu, khusus dalam
makalah ini, penulis akan membahas tentang bagaimana cara menunaikan rukun
islam yang terakhir ini sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya.
1.
Apa pengertian dari haji?
2.
Apa hukum haji?
3.
Apa
saja syarat-syarat haji?
4.
Apa saja rukun-rukun haji?
5.
Apa saja wajib haji?
6.
Apa saja sunnah-sunnah
haji?
7.
Apa saja larangan dan dam
dalam haji?
1.
Mengetahui pengertian Haji.
2.
Mengetahui hukum haji.
3.
Mengetahui syarat-syarat
haji.
4.
Mengetahui rukun-rukun
haji.
5.
Mengetahui wajib haji.
6.
Mengetahui sunat-sunat
haji.
Mengetahui apa saja denda
yang ditetapkan dalam haji
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
makna pengertian Haji
Arti haji
yaitu pergi menuju kota suci mekah untuk melaksanakan pekerjaan- pekerjaan haji
(manasik), dan hal tersebut hukumnya wajib bersama umrah yang dilaksanakan
sekali dalam hidup[1].
Haji
(asal maknanya) adalah “menyengaja sesuatu”. Haji yang dimaksud di sini
(menurut syara’) ialah “sengaja mengunjungi ka’bah (rumah suci) untuk melakukan
beberapa amal ibadah, dengan syarat-syarat yang tertentu”.
B.
Hukum Haji
Ibadah
haji diwajibkan Allah kepada kaum muslimin yang telah mencukupi
syarat-syaratnya. Menunaikan haki diwajibkan hanya sekali seumur hidup.
Selanjutnya yang kedua kali dan seterusnya adalah sunnah. Barangsiapa yang
bernazar haji wajib melaksanakannya.
C.
Syarat-syarat dalam berhaji
1.
Beragama islam
2.
Baligh
3.
Berakal
4.
Merdeka
5.
Ada biayanya (baik untuk pergi dan pulangnya maupun untuk keluarga
yang ditinggalkannya) dan ada kendaraannya (bagi penduduk luar mekah)
6.
Aman di perjalanan (dari bermacam-macam gangguan)
7.
Memungkinkan pergi (cukup waktu untuk berhaji
D.
Rukun Haji
1.
Ihram (berniat mulai mengerjakan haji atau umrah).
Sabda Rasulullah Saw:
اِنَّمَاالاَعْمَالُ
بِاالنِّيَاتِ رواه البخارى
“sesungguhnya segala amal ibadah
hanya sah dengan niat.” (Riwayat Bukhari)
2.
Hadir di padang arafah pada waktu yang ditentukan, yaitu mulai dari
tergelincir matahari (waktu Lohor) tanggal 9 bulan Haji sampai terbit fajar
tanggal 10 bulan haji. Artinya, orang yang sedang mengerjakan haji itu wajib
berada di padang arafah pada waktu tersebut.
Sabda Rasulullah Saw.:
عن
عبد الرحمن بن يعمر ان ناسامن اهل نجداتوارس الله صلى الله عليه وسلم وهوواقف
بعرفةفسألوه فامرمنادياينادى الحج عرفةمن جاءليلةجمع قبل طلوع الفجرفقدادرك رواه الخمسة
Dari Abdur Rahman bin Ya’mur, “Bahwa orang-orang Najd telah dating
kepada Rasulullah Saw. Sewaktu beliau sedang wukuf di padang arafah. Mereka
bertanya kepada beliau, maka beliau terus menyuruh orang supaya mengumumkan:
Haji itu hanyalah arafah. Artinya, yang terpenting urusan haji ialah hadir di
arafah. Barangsiapa yang datang pada malam sepuluh sebelum terbit fajar,
sesungguhnya ia telah mendapat waktu yang sah.”( riwayat lima orang ahli
hadits)
3.
Tawaf (berkeliling ka’bah). Tawaf rukun ini dinamakan” tawaf
ifadah”.
Firman allah swt. :
وليطوفوابالبيت
العتيق
“ Dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua
itu (baitullah).”(Al-Hajj: 29)
·
Syarat tawaf
A.
Menutup aurat.
Sabda Rasulullah Saw.:
قال
النبي صلى الله عليه و سلم لايطوف بالبيت عريان رواه البخارى ومسلم
“Janganlah engkau tawaf (mengelilingi ka’bah) sambil telanjang.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
B.
Suci dari hadas dan Najis.
Diriwayatkan:
عن
عاءشة ان اول شيءبدءبه النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم انه توضأ ثم طاف
بالبيت رواه البخارى ومسلم
Dari Aisyah, “sesungguhnya yang pertama dilakukan Nabi Saw. Ketika
beliau tiba di makkah ialah mengambil wudhu, kemudian beliau tawaf di
baitullah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
C.
Ka’bah hendaklah di sebelah kiri orang yang tawaf.
Diriwayatkan:
Dari Jabir, “bahwasanya Nabi Besar Saw. Tatkala sampai di makkah,
beliau mendekat ke hajar aswad, kemudian beliau menyapunya dengan tangan
beliau, kemudian berjalan ke sebelah kanan beliau; berjalan dengan cepat tiga
keliling, dan berjalan biasa empat keliling.” (Riwayat Muslim dan Nasai)
Sesudah Rasulullah menyapu hajar aswad, beliau berjalan ke seblah
kanan beliau. Dengan sendirinya, ka’bah ketika itu di sebelah kiri beliau.
D.
Permulaan tawaf itu hendaklah dari hajar aswad. (keterangannya
yaitu hadist di atas).
E.
Tawaf itu hendakah tujuh kali (keterangannya adalah hadist di atas)
F.
Tawaf itu hendaklah di dalam masjid karena Rasulullah. Melakukan
tawaf di dalam masjid.
·
Niat tawaf.
Tawaf yang terkandung dalam ibadah haji tidak wajib niat karena
niatnya sudah terk haji terkandung dalam niat ihram haji. Tetapi kalau tawaf
itu tersendiri bukan dalam ibadah haji, seperti tawaf wada’ (tawaf karena akan
meninggalkan mekah), maka wajib berniat. Niat tawaf disini menjadi syarat
sahnya tawaf itu.
·
Macam-macam tawaf
a.
Tawaf qudum (tawaf ketika baru sampai) sebagai shalat tahyatul
masjid.
b.
Tawaf ifadah (tawaf rukun haji)
c.
Tawaf wada’ (tawaf ketika akan meninggalkan ka’bah)
d.
Tawaf tahallul (penghalalan barang yang haram karena ihram).
e.
Tawaf nazar (tawaf yang dinazarkan)
f.
Tawaf sunat.
Masing-masing akan diterangkan kemudian.
Bacaan sewaktu tawaf:
سبحان
الله والحمد لله ولااله الاالله والله اكبرولاحول ولاقوة الابالله
Sabda rosululah saw:
عنابى
هريرة انه سمع النبى صلى الله غليه وسلم يقول
من طاف بالبيت سبعاولايتكلم الاسبحان الله والحمد لله ولااله الله والله
اكبرولاحول ولاقوة الابالله محيت عنه عشرسيئا ت وكتب له عشرحسنات ورفع له
بهاعشردرجا ت رواه ابن ماجه
Dari abu hurairah bahwasanya ia telah mendengar nabi
saw.bersabda,”barang siapa berkeliling ka’bah tujuh kali dan ia tidak berkata
selain membaca, “maha suci Allah dan segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan
yang patut disembah kecuali allah, allah maha besartidak ada upaya dan kekuatan
dengan pertolongan Allah.’ Orang yang membaca kalimat tersebut dihapus darinya
sepuluh kejahatan,ditulis sepeuluh kebaikan, dan diangkat derjatnya sepuluh
tingkat,” (riwayat ibnu majah).
4.
Sa’i (berlari-lari kecil di antara bukit Safa dan Marwah).
Sabda Rasulullah Saw.
عن
صفيةبنت شيبةان امرأة اخبرتهاسمعت النبى صلى الله عليه وسلم بين الصفاوالمروة
يقول كتب عليكم السعى فا سعوا رواه أحمد
Dari Safiyah binti Syaibah. Bahwa seorang perempuan telah
mengabarkan kepadanya (Safiyah) bahwa dia telah mendengar Nabi besar Saw.
Diantara bukit Safa dan Marwah. “telah diwajibkan atas kamu sa’i. maka
hendaklah kamu kerjakan.” (Riwayat Ahmad)
·
Syarat-syarat Sa’i
a.
Hendaklah dimulai dari bukit Safa dan disudahi di bukit Marwah.
Sabda Rasulullah Saw.:
عنجابرقال
النبى صلى الله عليه وسلم فابدء وابما
بدأ الله به رواه النسائ
Dari Jabir, “Rasulullah Saw. Telah bersabda, ‘Hendaklah kamu mulai
(sa’i kamu) di bukit yang terlebih dahulu disebut Allah dalam Alquran’.”
(Riwayat Nasa’i)
Sedangkan yang terdahulu disebut dalam Alquran ialah bukit Safa.
b.
Hendaklah sa’i itu tujuh kali karena Rasulullah Saw. Telah sa’I
tujuh kali dari Safa ke Marwah dihitung dua kali dan seterusnya.
c.
Waktu sa’I itu hendaklah sesudah tawaf, baik tawaf rukun maupun
tawaf qudum.
5.
Mencukur atau menggunting rambut. Hal ini kalau kita berpegang atas
pendapat yang kuat. Sekurang-kurangnya menghilangkan tiga helai rambut. Pihak
yang mengatakan bercukur menjadi rukun beralasan karena tidak dapat diganti
dengan menyembelih.
6.
Menerbitkan rukun-rukun itu (mendahulukan yang dahulu diantara
rukun-rukun itu), yaitu mendahulukan niat dari semua rukun yang lain,
mendahulukan hadir di padang arafah dari tawaf dan bercukur, mendahulukan tawaf
dari sa’i jika ia tidak sa’i sesudah tawaf qudum. (Keterangannya adalah amal
Rasulullah Saw.)
E.
Wajib Haji
Perkataan “wajib” dan ‘rukun” biasanya berarti sama, tetapi didalam
urusan haji ada perbedaan sebagai berikut:
Rukun : sesuatu yang tidak sah haji melainkan dengan melakukannya,
dan ia tidak boleh diganti dengan
“dam” (menyembelih binatang).
Wajib : sesuatu yang perlu dikerjakan tetapi sahnya haji tidak
bergantung padanya, dan boelh diganti dengan menyembelih binatang.
1.
Ihram dari miqat (tempat yang ditentukan dan masa tertentu )
ketentuan masa (moqat zamani) ialah dari awal bulan syawal sampai terbit fajar
hari raya haji (tanggal 10 bulan haji). Jadi, ihram haji dapat dilakukan dalam
masa dua bulan 9 ½ hari.
Firman Allah Swt.:
الحج اشهرمعلومت
“
Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi,” (Al-Baqarah 197)
Tafsirsahabata tentang bulan-bulan yang dimaklumi itu menurut asar
ibnu umar adalah :
عن
ابن عمر قال اشهرالحج شوال وذ والقعدة وعشرمن ذى الحجة رواه البخارى
Dari ibnu umar,” bulan haji itu ialah bulan syawal, zulqo’dah dan
sepuluh hari bulan haji,”( riwayat bukhori)
·
Ketentuan tempat (Makani)
a.
Makkah ialah miqat (tempat ihram (bagi orang yang tinggal di makkah.
Berarti orang yang tinggal di Makkah hendaklah ihram dari rumah masing-masing.
b.
dzul-Hulaifah ialah miqat (tempat ihram) orang yang datang dari
arah Madinah dan negeri-negeri yang sejajar dengan Madinah.
c.
Juhfah ialah miqat (tempat ihram) orang yang datang dari arah Syam,
Mesir, Magribi, dan negeri-negeri yang sejajar dengan negeri tersebut. Juhfah
adalah nama suatu kaum kampung di antara Makkah dan Madinah. Kampung itu
sekarang telah rusak (roboh), kampung yang dekat padanya ialah Rabig.
Orang-rang yang datang dari negeri-negeri tersebut sekarang mulai ihram apabila
mereka telah melalu atau sejajar dengan Rabig.
d.
Yamlamlam adalah nama suatu bukit dari beberapa bukit Tuhamah.
Bukit ini adalah miqat orang yang datang dari arah Yaman, India, Indonesia, dan
negeri-negeri yang sejajar dengan negeri-negeri tersebut. Orang-orang yang
datang dari Indonesia dan India, apabila kapal mereka telah setentang dengan
bukit Yalamlam, mereka telah wajib ihram.
e.
Qarnul manazil adalah nama dari sebuah bukit, jauhnya kira-kira
80,640 km dari makkah. Bukit ini merupakan miqat (tempat ihram) orang yang
datang dari arah Najdil-Yaman dan Najdil-Hijaz serta orang-orang yang datang
dari negeri-negeri yang sejajar dengan itu.
f.
Zatu’irqin adalah nama kampung yang jauhnya kira-kira 80,640 km
dari Makkah. Kampung ini merupakan miqat (tempat ihram) orang yang datang dari
Irak dan negeri-negeri yang sejajar dengan itu.
g.
Bagi penduduk negeri-negeri yang ada di antara Makkah dan
miqat-miqat tersebut, miqat mereka ialah negeri masing-masing.
Sabda Rasulullah Saw.:
عن ابن عباس وقت رسول الله صلى الله عليه
وسلم لاهل المدينة ذالحليفة ولاهل الشام الجحفة ولاهل نجد قرن المنازل ولاهل اليمن
يلملم قال فهن لهن ولمن اتى عليهن من غيراهلهن لمن كان يريد الحج والعمرة فمن كاندونهن فمهله من اهله وكذلك حتى اهل
مكةيهلون منها رواه البخارى ومسلم
Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah Saw.
Telah menentukan (tempat wajib ihram bagi tiap-tiap penduduk); yaitu bagi ahli
Madinah ialah Dzul Hulaifah, bagi ahli Syam ialah Juhfah, bagi ahli Najd ialah
Qarnul Manazil, dan bagi ahli Yaman ialah Yalamlam. Beliau bersabda,
‘tempat-tempat itu untuk penduduk negeri-negeri tersebut dan orang-orang yang
datang ke negeri-negeri itu, yang bermaksud akan beribadah haji dan umrah.
Adapun orang-orang yang negerinya lebih dekat ke Makkah dari tempat-tempat
tersebut, maka miqat-nya negeri masing-masing sehingga bagi ahli Makkah, miqat
mereka negeri Makkah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
عن جابر قال النبى صلى الله عليه وسلم مهل اهل العراق ذات غرق رواه مسلم
Dari Jabir, “Nabi Besar Saw.
Berkata, ‘miqat ahli irak ialah Zatu’irqin’.” (Riwayat Muslim)
Barang siapa
yang datang ke Mekah dengan maksud hendak beribadah haji atau umrah, maka
apabila ia sampai dalam perjalanannya ke tempat tersebut, atau setentang dengan
tempat-tempat itu, ia sudah wajib ihram (berniat); kalau tidak, ia wajib
membayar denda (dam), yaitu memotong seekor kambing yang sah untuk kurban.
2.
Berhenti di Muzdalifah sesudah tengah malam, di malam Hari Raya
Haji sesudah hadir di padang Arafah. Maka apabila ia berjalan dari Muzdalifah
tengah malam, ia wajib membayar denda (dam). (keterangannya adalah amal
Rasulullah Saw.)
3.
Melontar Jumratul’Aqabah pada Hari Raya Haji.
Dari Jabir. Ia berkata, “Saya melihat Nabi Saw. Melontar Jumrah
dari atas kendaraannya pada Hari Raya, lalu beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu
turut cara ibadah seperti yang aku kerjakan ini karena sesungguhnya aku tidak
mengetahui, apakah aku akan dapat mengerjakan haji sesudah ini.” (Riwayat
Muslim dan Ahmad)
4.
Melontar Tiga Jumrah.
Jumrah yang pertama, kedua, dan ketiga (jumrah ‘aqabah) dilontar
pada tanggal 11-12-13 bulan haji. Tiap-tiap jumrah dilontar dengan tujuh batu
kecil. Waktu melontar ialah sesudah tergelincir matahari pada tiap-tiap hari.
عن
عائشة مكث النبى صلى الله عليه وسلم بمنى ايام تشريق رمى الجمرةاذازالت الشمس كلجمرة بسبع
حصيات رواه أحمد وابوداود
Dari Aisyah, “Nabi Saw. Telah tinggal di Mina selama hari Tasyriq
(tanggal 11-12-13 Haji). Beliau melontar jumrah apabila matahari telah condong
ke sebelah barat, tiap-tiap Jumrah dilontar dengan tujuh batu kecil.” (Riwayat
Ahmad dan Abu Dawud)
Orang yang sudah melontar pada hari pertama dan kedua, kalau dia
ingin pulang, tidak ada halangan lagi. Kewajiban bermalam pada malam ketiga dan
melontar pada hari ketiga, hilang darinya.
Firman Allah Swt.:
فمن
تعجل فى يومين فلااثم عليه
“barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dai
hari, maka tiada dosa baginya.” (Al-Baqarah; 203)
·
Syarat melontar
a.
Melontar dengan tujuh batu, dilontarkan satu persatu.
b.
Menertibkan tiga jumrah, dimulai dari jumrah yang pertama (dekat
Masjid Khifa), kemudian yang tengah, dan sesudah yang akhir (jumrah ‘aqabah).
c.
Alat untuk melontar adalah batu (batu kerikil), tidak sah melontar
dengan selain batu.
Orang yang
berhalangan tidak dapat melontar, sedangkan halangannya itu tidak ada harapan
akan hilang dalam masa yang ditentukan untuk melontar, maka orang tersebut
hendaklah mencari wakilnya, sekalipun dengan jalan mengupah. Orang yang tidak
melontar sehari atau dua hari harus menggantinya pada hari lain asal masih
dalam asa yang ditentukan untuk melontar, yaitu tanggal 10-13.
5.
Bermalam di Mina. Beralasan atas perbuatan Rasulullah Saw. Selagi
beliau hidup dan hadis Aisyah yang telah disebut dalam no. 4
6.
Tawaf wada’ (tawad sewaktu akan meninggalkan mekah).
عن
ابن عباس امرالناس ان يكون اخرعهدهم بالبيت الاانه خفف عن الحائض روله البخارى ومسلم
Dari Ibnu Abbas, “diperintahkan supaya mengakhiri pekerjaan haji
mereka di Mekah ialah tawaf; kecuali perempuan yang sedang dalam keadaan haid,
tidak berarti dengan tawaf.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
7.
Menjauhkan diri dari segala larangan atau yang diharamkan
(muharramaat).
F.
Sunnah Haji
1.
Ifrad
Yaitu ihram untuk haji saja duhulu dari miqat-nya, terus
diselesaikannya pekerjaan haji, kemudian ihram untuk umrah, serta terus
mengerjakan segala urusannya, berarti dikerjakan satu-satu dan didahulukannya
haji. Inilah yang dinamakan ifrad, yang lebih baik dari dua cara lainnya yakni
tamattu’ dan Qiran.
2.
Membaca talbiyah dengan suara
yang keras bagi laki-laki. Bagi perempuan hendaklah diucapkan sekadar terdengar
oleh telinganya sendiri.
Membaca talbiyah disunnahkan selama dalam ihram sampai lontar
jumrah ‘aqabah pada hari raya.
Lafaz talbiyah:
لبىك الهم لبىك لاشرىك لك لبىك ان الحمد
والنعمةلك والملك لك لاشرىك لك. رواه البخارى ومسلم
“Ya Allah, saya tetap tunduk mengikuti
perintah-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala puji dan nikmat
bagi-Mu, dan Engkaulah yang menguasai segala sesuatu, tidak ada yang menyekutui
kekuasaan-Mu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
3.
Berdoa sesudah membaca talbiyah.
عن خزىمةبن ثابت ان النبىى صلى الله علىه وسام اذافرغ من
تلبىة سأل الله عزوجل رضوانه والجنةواستعاذ برحمته من انار. روه الشافعى والدارقطنى
Dari Khuzaimah bin Tsabit: “Bahwasanya Nabi
Saw. Apabila beliau telah selesai membaca talbiyah, beliau meminta keridhaan
Allah, supaya diberi surga, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari siksa api
neraka.” (Riwayat Syafi’I dan Daruquthni).
4.
Membaca dzikir sewaktu tawaf.
Zikir tawaf;
5. Dari
Abdullah bin Saib, katanya: “saya dengar Rasulullah Saw. Bersabda عن عبدالله بن الساءب سمعت رسل الله صلى الله
علىه و سلم يقول بين الركن اليمان والحجرربنااتنافى الد نياحسنة وفى
الأخرةحسنةوقناعذابالنار. رواه أبوداود
di antara rukun (sudut) Yamani dan Hajar
Aswad: Wahai Tuhan kami, beriklah kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di
akhirat serta perihalah kami dari siksaan api neraka.” (Riwayat Abu Dawud)
Shalat dua rakaat sesudah tawaf.
Masuk ke ka’bah (rumah suci).
Sabda Rasulullah Saw.:
عن ابن عباس قال النبي صل الله عليه و سلم:من دخل البيت
دخل فى حسنة و خرج مغفوراله. رواه البيهقى
Dari Ibnu Abbas, “Nabi Saw. Telah bersabda,
‘Barangsiapa yang masuk ke ka’bah (rumah suci), ia telah masuk ke dalam
kebaikan serta ia keluar mendapat ampunan’.” (Riwayat Baihaqi)
G. Dam dan
Larangan dalam Haji
·
Dendaan-dendaan yang wajib dilaksanakan (karena mengerjakan
larangan) dalam ihram itu ada lima perkara, ialah :
1.
Dam wajib karena meninggalkan ibadah haji (yang diperintahkan
seperti meninggalkan ihram dari miqat), yaitu secara tertib, yaitu dengan
seekor domba, kalau tidak mendapatkannya, maka dengan puasa 10 hari, 3 hari
(dikerjakan) di waktu haji dan 7 hari bila telah pulang kepada keluarganya (di
rumahnya).
2.
Dam wajib disebabkan bercukur rambut dan bersenang-senang (memakai
wangi-wangian), yaitu dengan cara boleh memilih antara menyembelih domba atau
puasa 3 hari atau bersedekah dengan 3 cupak kepada 6 orang miskin.
3.
Dam wajib karena terkepung (oleh musush sehingga terhalang
melakukan ibadah hajinya), maka bolehlah ia bertahallul (niat keluar dari
ibadah haji karena terkepung itu ) dan harus berhadiah dengan (menyembelih )
domba.
4.
Dam wajib yang disebabkan membunuh binatang buruan (di tanah
haram), yaitu boleh memilih diantara :
a.
Kalau binatang itu terdiri dari binatang yang ada penyerupanya
(seperti: kijang menyerupai kambing), maka ia mengeluarkan (dengan menyembelih)
binatang penyerupanya.
b.
Atau (kalau tidak mendapatkan binatang yang serupa itu seperti
kambingnya), maka hitunglah harga binatang itu dan belilah dengan seharganya
makanan dan menyedekahkannya (kepada para miskin tanah haram mekkah).
c.
Atau berpuasa (sebagai gantinya) untuk setiap muda sehari ;
d.
Kalau binatang buruan (yang dibunuh itu) terdiri dari binatang yang
tidak ada penyerupanya, maka ia mengeluarkan dengan harganya (dengan
membelikannya) kepada makanan (untuk disedekahkan).
e.
Atau berpuasa (sebagai gantinya); dari setiap mud sehari
5.
Dam wajib yang disebabkan jima yaitu diatas urutan :
a.
Dengan seekor unta; b. maka tidak mendapatkannya maka dengan sapi;
c. kalau tidak maka dengan 7 domba; d. kalau tidak mendapatkannya, maka dengan
menilai harga unta itu, lalu belikanlah uangnya makanan dan bersedekah dengan
makanan tersebut; e. kalau tidak mendapatkannya, maka berpuasalah dari setia
mud sehari.
Tidak cukup orang itu berhadiah dan tidak cukup member makanan,
kecuali harus di tanah haram mekah; dan mencukupkan kepadanya berpuasa di mana
maunya saja. Tidak membunuh binatang buruan di tanah haram dan (tidak boleh)
memotong pohon-pohonnya. Orang yang bertahalul dan berihram dalam hal ini sama
saja.
·
Larangan-larangan dalam ibadah haji
1.
Beberapa Larangan ketika Ihram
a.
Larangan bagi laki-laki
1)
Dilarang memakai pakaian yang berjahit, baik jahitan biasa atau
bersulaman, atau diikatkan kedua ujungnya. Yang dimaksud adalah tidak boleh
memakai pakaian yang melingkungi badan (seperti kain sarung). Yang
diperbolehkan ialah kain panjang, kain basahan, atau handuk. Boleh juga memakai
kain tersebut kalau karena keadaan yang mendesak, seperti karena sangat dingin,
atau panas, tetapi ia wajib membayar denda (dam).
Sabda Rasulullah Saw.:
عن ابن عمرسئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عمايلبس ال
محرم؟قال:لايلبس المحرم القميص ولا العمامة ولاالبرنس ولاالس اويل ولاثوبامسه ورس
ولازعفران ولاالخفين الاان لايجد نعلين فليقطعهماحتى يكونااسفل من الكعبين. رواه البخارى ومسلم
Dari Ibnu Umar; “Rasulullah Saw. Telah ditanya. ‘Apakah pakaian
yang harus dipakai oleh orang yang sedang ihram haji?’ Jawab beliau, ‘orang
ihram tidak boleh memakai baju, ikat kepala, topi, celana, kain yang dicelup
dengan sesuatu yang harum; tidak boleh memakai za’faron, dan sepatu, kecuali
kalau ia tidak mempunyai terompah, maka ia boleh memakai sepatu, hendaklah sepatunya
itu dipotong sampai di bawah dua mata kaki’.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
2)
Dilarang menutup kepala, kecuali karena suatu keperluan, maka
diperbolehkan, tetapi ia wajib membayar denda (dam).
Sabda Rasulullah Saw. Terhadap seseorang yang mati karena terjatuh
dari untanya:
لاتخمروارأسه
فانه يبعث يوم القيامةملبيا. رواه
البخارومسلم
“jangan kamu tutup kepalanya, maka sesungguhnya ia akan
dibangkitkan nanti pada hari kiamat dalam keadaan membaca talbiyah.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Maka keadaan dibangkitkan seperti sewaktu membaca talbiyah itu
menunjukkan bahwa dilarang menutup kepala itu karena ihram.
b.
Yang dilarang bagi perempuan
Dilarang menutup muka dan dua tapak tangan, kecuali apabila keadaan
mendesak, maka ia boleh menutup muka dan
dua tapak tangannya, tetapi diwajibkan membayar fidyah.
Sabda Rasulullah Saw.:
عن
ابن عمر قال النبىى صلى الله عليه و سلم : لاتنقب المرأة المحرمة ولاتلبس القفازين. رواه البخار وأحمد
Dari Ibnu Umar, “Nabi Saw. Telah bersabda, “tidak boleh bagi
perempuan yang ihram memakai tutup muka, dan tidak boleh memakai sarung
tangan’.” (Riwayat Bukhari dan Ahmad)
c.
Yang dilarang bagi keduanya, laki-laki dan perempuan
1)
Dilarang memakai wangi-wangian, baik pada badan maupun pada
pakaian. Keterangan hadits tersebut tergantung pada nomor satu (rosululuah saw
melarang memakai kain yang dicelup dengan sesuatu yang harum ). Adapun
ketinggalan bau wangi-wangian yang dipakai sebelum ihram hinnga masih tetap
tertinggal sesudahnya, tidak berdosa, bahkan rosulullah saw apabila hendak
ihram, biasanya beliau memakai wangi-wangian terlebih dahulu.
2)
Dilarang menghilangkan rambut atau bulu atau bulu badan yang lain,
begitu juga berminyak rambut.
Firman Allah swt :
لاتحلقوارءوسكم.
“ janganlah kamu mencukur kepalamu.” (Al-Baqoroh 196)
3)
Dilarang memotong kuku. Keterangannya dikiaskan pada larangan
menghilangkan rambut. Mengilangkan tiga helai rambut atau tiga kuku, mewajibkan
fidyah yang cukup dengan syarat pada tempat dan masa yang satu.
Mencukur rambut karena udzur seperti
sakit diperbolehkan tetapi wajib membayar fidyah.
Firman Allah swt:
فمن كان منكم مريضااوبه اذى من رأسه ففديةمن صيام اوصدقةاونسك.
“jika ada diantaramu yangsakit atau
ada gangguan dikepalanya (lalu ia bercukur). Maka wajiblah atasnya berfidyah,
yaitu berpuasa atau bersedekah atau berqurban.” (Al-Baqoroh 196)
4)
Dilaarang mengakadkan nikah (menikahkan, menikah, atau menjadi
wakil dalam akad pernikahan).
Sabda rosulullah saw:
عن
عثمان بن عفان قال النبي صلى الله عليه وسلم : لاينكح المحرم ولاينكح ولايختب. رواه مسلم
dari ustman bin affan. Nabi saw telah bersabda,” orang yang sedang
dalam ihram tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan (menjadi wali atau
wakil), dan tidak boleh pula meminang.” (riwayat muslim)
rujuk tidak dilarang, sebab rujukitu berarti mengekalkan
pernikahan, bukan akad nikah hal itu berdasarkan kaidah berikut ini:
يغتفرفى
الدوام مالايغتفرفى الابتداء.
“ diampuni mengekalkan sesuatu, sedangkan memulainya tidak diampuni
(tidak boleh).”
5)
Dilarang bersetubuh dan pendahuluannya. Bersetubuh itu bukan hanya
dilarang, tetapi memfasidkan (membatalkan) umrah apabila terjadi sebelum
seslesai dari semua pekerjaan umrah, dan memfasidkan haji apabila terjadi
sebelum mengerjakan penghalal yang pertama.
Firman Allah swt:
فمن
فرض فيهن الحخ فلا رفث ولافسوق ولاجدال فى الحخ.
“barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan
mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, danberbantah-bantahan
dalam mengerjakan haji’.” (Al-Baqoroh 197)
6)
Dilarang memburu dan membunuh binatang darat yang liar dan halal
dimakan
Firman Allah swt:
وحرم
عليكم صيد البر مادمتم حرما
“ dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat selama
kamu ihram.” (Al-Maidah 96)
Adapun memakan binatang yang diburu oleh orang lain, tidak ada
halanganbagi orang ihram, asal niat orang yang berburunya bukan untuk orang
ihram.
Sabda rosulullah saw:
عن
جابرقال النبي صلى الله عليه وسلم صيد البرلكم حلال وانتم حرم مالم تصيدوه
اويصدلكم. رواه الترمذى
والنسائ
Dari jabir,”nabi saw telah bersabda,’binatang bururan di darat
halal bagi kamu jika kamu sedang ihram, asal tidak kamu yang berburunya atau
diburu karena untuk kamu’.” (riwayat tirmidzi dan nasaai)
2.
Tahallul (penghalalan beberapa larangan)
Pengahalalan bebrapa laranag ada tiga perkara:
a.
Melontar zumrah aqobah pada hari raya
b.
Mencukur atau menggunting rambut
c.
Tawaf yang diiringi dengan sai, kalau ia belum syai setelah tawaf
qudum
apabila dua perkara diantara tiga
perkara tersebut telah dikerjakan, halallah baginya beberapa laranag berikut
ini:
a.
Memakai pakain berjilid
b.
Menutup kepala bagi laki-laki dan menutup muka telapak tangan bagi
perempuan
c.
Memotong kuku
d.
Memakai wangi-wangian, berminyak rambut, dan memotongnya kalau ia
belum bercukur.
e.
Berburu dan membunuh binatang liar.
f.
Maka apabila
dikerjakan yang satu perkara lagi setelah dua perkara yang tadi, hasillah
pengahalal yang kedua, dinamakan’ tahalul yang kedua’, dan halalah semua
larangan yang belum halal pada tahalul pertama tadi. Sesudah itu ia wajib
meneruskan bebrapa pekerjaan haji yang belum dikerjakannya kalau ada, umpamanya
melontar, ia tidak dalam ihram lagi.
Adapun pengahalal umrah, yaitu setelah selesai dari semua pekerjannya.
3.
Meninggalkan rukun haji
Barang siap
ketinggalan hadir di padang arafah pada waktu yang ditentukan, hendaklah ia
mengerjakan pekerjaan umrah agar ia keluar dari ihramnya; ia wajib membayar
fidyah dan mengqodo pada tahun yang berikutnya.
Sabda rosulullah saw:
من فاته عرفة ليلا فقدفاته الحج فليهل بعمرة وعليه الحج من قابل. رواه الدارقطنى
“barang siapa ketinggaln hadir di
padang arafah pada malam (tanggal 10 bulan haji), maka sesungguhnya telah
tertinggalah hajinya. Makahendaklah
mengerjakan umrah, dan ia wajib mengqodo hajinya pada tahun berikutnya.”
(riwayat darul qutni)
Orang yang
meninggalkan salah satu rukun dari rukun-rukun haji selain dari hadir di padang
arafah, ia tidak halal dari ihramnya hingga dikerjakannya rukun yang tertinggal
itu. Karena rukun-rukun yang lain itu mempunyai waktu yang luas, maka hendaklah
ia lekas mengerjakannya agar ia halal dari ihramnya.
Barang siapa
meninggalkan salah satu dari wajib-wajib haji atauu umrah, ia wajib membayar
denda (dam). Tetapi barang siapa meninggalkan sunah haji atau umrah ia tidak
wajib melakukan apa-apa.
4.
Tanah Haram dan Isinya
Firman Allah swt:
اولم
يروااناجعلناحرماامناويتخطف الناس من حولهم.
“danapakah mereka tidak
memperhatikan, bahwa sesungguhnya kami telah menjadikan (negri mereka) tanah
suci yang aman, sedangkan manusia sekitarnya rampok-merampok.” (Al-Ankabut: 67)
Tanah
haram,yaitu sekeliling masjidil haram, telah di beri tanda pada beberapa
(batas) pada beberapa penjuru (lihat peta”muwaqit”). Dilarang (haram) memburu
barang tanah haram, begitu juga memotong dan mencabut pohon-pohonan dan
rumput-rumputnya, baik bagi orang yang sedang dalam ihram ataupun tidak.
Pohon-pohon dan rumput-rumput yang terlarang dipotong dan dicabutnya ialah
apabila ia masih hidup dan tidak menyakiti tetapi kalau rumput-rumut atau
pohon-pohon yang sudah kering atau menyakiti, misalnya yang berduri maka boleh
dicabut atau di potong boleh pula mengambilnya untuk dijadikan obat. Juga tidak
dilarang membunuh binatang yang berbahaya.
ان هذاالبلدحرام بحرمةالله الى يوم القيامة لايعضدشجره ولاينفرصيده
ولاتلتقط لقطته الامن عرفهاولايختلى خلاه قال ابن عباس:يارسول الله الاالاذخرفانه
لقينهم وبيوتهم قال الاالاذخر. رواه
البخارى ومسلم
“sesungguhnya negri ini
(mekkah) negri terpelihara, oleh
penjagaan allah , sampai hari kiamat, pohon-pohonnya tidak boleh dipotong,
bonatangnya tidak boleh diburu, dan tidak boleh di pumut barang yang di dapat
padanya kecuali orang yang bermaksud mengumumkannya, juga tidak boleh dicabut
rumputnya.” Mendengar sabda beliau tersebut ibnu abas berkata,” ya rosulullah,
kecuali izhkir. Sesungguhnya izhkir berguna bagi tukang besi dan berguna untuk
rumah-rumah mereka.”jawab beliau,”ya, kecuali izhkir.”(riwayat bukhari dan
muslim)
عن عائشةامررسول الله عليه وسلم بقتل خمس فواسق فى الحل والحرم :
الغراب والحدأةوالعقرب والفأرةوالكلب العقور. رواه البخارى ومسلم
Dari aisyah,” rosuullah saw. Telah
menuruh membunuh lima macam binatang yang jahat, baik di tanah halal maupun ditanah
haram yaitu: (1) gagak, (2) burung elang, (3) kalangjengking, (4) tikus, (5)
anjing yang suka mengigit (anjing gila).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ada lagi beberapa hadis lain yang
memperbolehkan binatang yang berbahaya.
BAB III
PENUTUP
Ibadah haji merupakan rukun islam
yang kelima yang mana kita diwajibkan untuk menunaikannya jika kita mampu, dan
arti haji pula ialah menuju ke kota suci mekah (baitulullah) dan didalam
haji pun terdapat syarat-syaratnya yaitu Beragama islam, Baligh, Berakal,
Merdeka, Ada biayanya (baik untuk pergi dan pulangnya maupun untuk keluarga
yang ditinggalkannya) dan ada kendaraannya (bagi penduduk luar mekah, Aman di
perjalanan (dari bermacam-macam gangguan), Memungkinkan pergi (cukup waktu
untuk berhaji, ketika kita ingin menunaikan ibadah haji terdapat rukun sebelum
itu yaitu Ihram (berniat mulai mengerjakan haji atau umrah), Hadir di padang
arafah pada waktu yang ditentukan, Tawaf, Sa’i (berlari-lari kecil di antara
bukit Safa dan Marwah), mencukur atau menggunting rambut, Menerbitkan
rukun-rukun itu (mendahulukan yang dahulu diantara rukun-rukun itu)
Behreisj, Hussein. Tuntunan Islam Akidah dan
Syariah. 124. Surabaya.
Safrodin, Muhammad. Haji For Teens. 2013.
Kalimantan. Benteng Pustaka.
Sabiq, Sayyid. Fiqh Sunnah. 1983. Bandung. PT
Al-Ma’arif.
Rasjid,
Sulaiman. Fiqh Islam. 2009. Bandung. Penerbit Sinar Baru Algesindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar