BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Iman, Islam dan Ihsan
1. IMAN
Kita
tidak mungkin menjadi mukmin yang hakiki tanpa mengenal profil nabi kita
Muhammad SAW sebab, hanya dengan itu kita tahu bagaimana seharusnya mengamalkan
agama islam ini. Membahas tentang perihal iman maka pembahasan tersebut
menjurus kepada ilmu tauhid. Ilmu tauhid tidak dapat dipisahkan dengan
permasalahan keimanan. Dengan demikian, membahas ilmu tauhid berarti juga
menerangkan segala sesuatu tentang keimanan serta rukun-rukunnya sebab yang
diisyaratkan dengan tauhid ialah al-iman. Iman berasal dari kata : " ايمان " merupakan bentuk masdar yang fi’il madhinya adalah " امن” Yang menurut lughah (bahasa) artinya
adalah :
صد
قه ووثق به (Membenarkan
serta mempercayakan).
Secara etimologi berarti:
اٰمَنَ - يُؤْمِنُ - اِيْمَانًا -aamana-yu minu-iimaanan = Mengamankan.
اٰمَنَ بِ -aamana bi = Percaya. Menurut para ahli kalam yang
termaktub (tercantum) dalam kitab al-a’lamah as-syayid husein affandi
al-jisri at-tharabilisi yang berjudul al husunul hamidiyyah, pengertian
iman adalah sebagai berikut : “membenarkan apa-apa yang dibawa Rasulullah SAW.
Yang diketahui kedatangannya secara pasti, maksudnya tekad membenarkan apa-apa
yang dibawa nabi itu dari sisi Allah SWT, yang diketahui secara yakin
kedatangannya disertai ketundukan hati.
Menurut Imam Bukhari sendiri, iman
adalah:الايمان قول وعمل يزيد
وينقص
(ucapan dan amalan
(pekerjaan), bertambah dan berkurang)
Menanggapi
pernyataan beliau tersebut tentang bertambah serta berkurangnya iman di
jawab berbeda oleh ulama yang masuk dalam pembahasan ilmu kalam. Apakah
benar iman itu bisa bertambah serta bisa pula berkurang?
Senada
dengan pernyataan tersebut imam al-asy’ari menyatakan bahwa iman itu bisa naik
serta bisa pula turun. Dapat bertambah akan tetapi dapat pula
berkurang. Pernyataan beliau tersebut menyatakan bahwa bukan pengertian
iman secara esensi yang dapat bertambah serta berkurang akan tetapi yang
disebutkan beliau itu adalah pengertian iman secara sifat.
Kemudian menurut Al-bazdawi iman tidak bisa naik maupun turun atau tidak dapat
bertambah maupun berkurang. Hanya saja beliau mencontohkan bahwa iman tersebut
adalah suatu benda yang terkena cahaya yang mana cahaya tersebut akan membuat
bayangan, bayangan benda tersebut dapat berupa bayangan yang sedikit bisa pula
berupa bayangan yang banyak sesuai dengan cahaya yang di berikan kepada benda
tersebut. Nah jika benda tersebut dimisalkan dengan iman, apakah benda tadi
dengan sendirinya bisa bertambah serta bisa berkurang? Tentu tidak bukan,
karena yang dapat bertambah serta berkurang adalah bayangan dari benda tersebut
dan bayangan itulah yang dimaksudkan sebagai iman yang bisa bertambah dan
berkurang.
Seseorang yang telah
beriman wajib menjaga keimanannya dari segala perbuatan buruk yang akan
mengakibatkan rusaknya iman tersebut. Iman itu belumlah cukup apabila
hanya diucapkan dengan lidah saja, tetapi harus disertai dengan amal saleh,
yaitu melaksanakan semua perintah syari’ah agama. Hal ini sesuai dengan sabda
Nabi Muhammad SAW.: “Iman ialah kepercayaan (diyakini) di dalam hati,
ditetapkan (diucapkan) dengan lidah, dan dilaksanakan dengan anggota badan
(perbuatan).”
Ada pula riwayat hadits
yang menjelaskan tentang keagungan iman, seperti riwayat berikut.
Dikeluarkan oleh Bukhari (6443) dan Muslim (94) dari Abi Dzar r.a. ia
berkata: “pada suatu malam aku keluar rumah, tba-tiba kulihat Rasulullah
s.a.w. berjalan sendirian tidak ada seorangpun yang bersamanya, lalu aku
berkata dalam hati: mungkin Rasulullah saw. Ingin sendirian, “ Abu Dzar r.a.
berkata “ aku kemudian berjalan di bawah bayang-bayang rembulan, Rasulullah
saw. Menoleh dan melihatku, “kemudian berkata: “siapakah ini?”, aku menjawab: ”
aku Abu Dzar, “ beliau berkata: “ wahai Abu Dzar kemarilah,” abu dzar r.a.
berkata: “ lalu aku berjaalan bersamanya sejam lamanya, “ maka beliau bersabda:
“ sesungguhnya orang yang memperbanyakharta didunia mereka itulah yang akan
kemiskinan pada hari kiamat, kecuali orang yang diberi kebaikan oleh Allah
subhanahu wa taala, hingga ia membelanjakan hartanya dari samping kanan, kiri,
dari depan, belakang dan selalu berbuat kebaikan, : Abu Dzar berkata: “ aku
berjalan bersama beliau sejam lamanya”, kemudian beliau berkata kepadaku:
“duduklah di sini! “, Abu Dzar berkata: “Rasulullah saw. Menyuruhku duduk di
sebuah tempat luas yang dipenuhi dengan batu, “ beliau berkata: “ tunggu di
sini sampai aku kembali,” Abu Dzar r.a. berkata: “Rasulullah saw. Pergi ke
sebuah tempat yang dipenuhi batu hitam, hingga aku tidak melihatnya, dan
akupun lama menunggu beliau, tidak lama kemudian aku mendengar suaranya
ketika hendak dekat padaku, “ setelah datang dan aku tidak sabar aku langsung
bertanya kepadanya: “wahai nabi Allah ! dengan siapa kau berbicara disana?: ”,
aku tidak mendengar seorangpun yang menjawabmu?, beliau menjawab: “ itu Jibril
yang sedang datang dengan membawa wahyu “, ia berkata kepadaku: “ Wahai Muhammad!
Berilah kabar gembira umatmu dengan surga bagi siapapun yang mati dan tidak
berbuat syirik kepada Allah sekalipun,“ lalu aku bertanya: “ Wahai Jibril!
Meski ia melakukan zina dan mencuri? “, Jibril menjawab: “Ya”, aku (Abu Dzar)
bertanya: “ wahai Rasulullah! Meski berzina dan mencuri?”, beliau menjawab:
“Benar”, aku bertanya lagi:” meski berzina dan mencuri?”, kemudian beliau
menjawab: “ Ya, meskipun ia meminum khomer (minuman keras)”. (demikian
disebutkan dalam jam’ul fawaid jilid 1 hal 7, dan ada tambahan dalam Riwayat
Bukhari, Muslim Dan Tarmidzi dalam pertanyaan keempat: “ meski kau tidak bisa
menerimanya wahai Abu Dzar”)
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa setiap orang beriman harus mengamalkan
keimanannya dalam perbuatan lahiriah dan batiniah (keyakinan hati yang didasari
oleh keikhlasan). Bila tidak demikian, maka keimannya belum sempurna.
2. ISLAM
Islam
berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang secara
kebahasaan berarti 'Menyelamatkan'. beberapa istilah terpenting dalam pemahaman
mengenai keislaman, yaitu Islam dan Muslim. Kesemuanya berakar dari kata Salam
yang berarti kedamaian. Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab
Aslama, yang bermakna "untuk menerima, menyerah atau tunduk" dan
dalam pengertian yang lebih jauh kepada Tuhan.
Pengertian
Islam bisa kita bedah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek
peristilahan. Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari
kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima
selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam
kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada
Allah swt. disebut sebagai orang Muslim.
Dari
uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan
mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam
upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal itu
dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau
berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk
yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah.
Adapun
pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya di
antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa Islam menurut istilah
(Islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan
kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya
membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi menganal
berbagai segi dari kehidupan manusia. Sementara itu Maulana Muhammad Ali
mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu
keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata
bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan
sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an,
melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya pada
undang-undang Allah.Kemudian, menurut Hamka setelah manusia menerawang,
berfikir, merenung, membanding, mengukur, menjangka, pendeknya memfilosof,
akhirnya sampailah dia di ujung perjalanan. Di dinding yang tidak tersebrangi itu.
Segala macam telah dicobanya. Akhirnya yakinlah dia bahwa memang ada sesuatu
itu,dialah
yang Mutlak, Dialah Yang Maha Kuasa, Dialah puncak (kata plato). Dialah Tao, yang
tak dapat diberi nama (kata Lao Tze). Maka insyaflah manusia akan kelemahan
dirinya, dan insyaf akan kemaha besarnya yang ada itu. Maka menyerahlah
dia dengan segala rela hati. Penyerahan yang demikian dalam bahasa arab
dinamai Islam.
Dari pengertian Islam tersebut,
adanya 3 aspek, yaitu:
a. Aspek vertikal
Mengatur
antara makhluk dengan kholiknya (manusia dengan Tuhannya). Dalam hal ini
manusia bersikap berserah diri pada Allah.
b. Aspek horizontal
Mengatur
hubungan antara manusia dengan manusia. Islam menghendaki agar
manusia yang satu menyelamatkan, menentramkan dan mengamankan manusia yang
lain.
c. Aspek batiniah
Mengatur
ke dalam orang itu sendiri, yaitu supaya dapat menimbulkan kedamaian,
ketenangan batin maupun kemantapan rohani dan mental.
Allah
SWT bersabda:
Jadi, dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengetian islam adalah sebuah agama yang tidak membebani tidak
pula memanjakan pemeluknya ( agama pertengahan) yang mana tanpa ada paksaan
untuk pemeluknya menyerah atau tunduk sesuai dengan fitrahnya dan selamatlah
mereka yang taat serta benar-benar memegangnya.
3. IHSAN
Ihsan adalah
kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.” Dalam
terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah
seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya,
maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat
perbuatannya. Ihsan ialah melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati karena
menyadari bahwa Allah selalu melihatnya, hingga ia merasakan berhadapan
langsung dengan Allah dan bahkan ia melihat Allah SWT dengan hati nurani. Semua
itu dilakukannya dengan ikhlas. Seseorang tidak akan
merasakan nikmatnya ibadah apabila dia tidak merasa melihat dengan
tuhannya. Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan
yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh
karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan
manusia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“sesungguhnya
Allah mewajibkan al-Ihsan dalam segala masalah, oleh karena itu jika kalian
berperang harus dengan satria, dan jika menyembelih binatang pun harus dengan
cara yang baik (tidak sadis)”.
Syaikh
‘Abdurrahman as Sa’di Rahimahullah menjelaskan bahwa ihsan mencakup dua macam,
yakni ihsan dalam beribadah kepada Allah dan ihsan dalam menunaikan hak sesama
makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah
seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi oleh-Nya.
Sedangkan ihsan dalam hak makhluk
adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua,
yaitu:
a. Wajib
Yang hukumnya wajib, misalnya
berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah.
b. Sunnah
Yang hukumnya sunnah, misalnya
memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang. Salah satu
bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat
jelek kepada kita, baik dengan ucapan atau perbuatannya.
1. Hakikat iman
Iman adalah keyakinan
yang menghujam dalam hati, kokoh penuh keyakinan tanpa dicampuri keraguan
sedikitpun. Sedangkan keimanan dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada
Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rosul-rosulNya, hari akhir dan
berIman kepada takdir baik dan buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan
lisan, amal hati dan amal lisan serta amal anggota tubuh. Iman bertambah dengan
ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Kedudukan Iman lebih tinggi dari
pada Islam, Iman memiliki cakupan yang lebih umum dari pada cakupan Islam,
karena ia mencakup Islam, maka seorang hamba tidaklah mencapai keimanan kecuali jika seorang
hamba telah mamapu mewujudkan keislamannya. Iman
juga lebih khusus dipandang dari segi pelakunya, karena pelaku keimanan adalah
kelompok dari pelaku keIslaman dan tidak semua pelaku keIslaman menjadi pelaku
keimanan,
jelaslah setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.
Keimanan tidak terpisah
dari amal, karena amal merupakan buah keImanan dan salah satu indikasi yang
terlihat oleh manusia. Karena itu Alloh menyebut Iman dan amal soleh
secara beriringan dalam Qur’an surat Al Anfal ayat 2-4 yang artinya:
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
$yJ¯RÎ) cqãZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# #sÎ) tÏ.è ª!$# ôMn=Å_ur öNåkæ5qè=è% #sÎ)ur ôMuÎ=è? öNÍkön=tã ¼çmçG»t#uä öNåkøEy#y $YZ»yJÎ) 4n?tãur óOÎgÎn/utbqè=©.uqtGt ÇËÈ úïÏ%©!$# cqßJÉ)ã no4qn=¢Á9$# $£JÏBur öNßg»uZø%yu tbqà)ÏÿZã ÇÌÈ y7Í´¯»s9'ré& ãNèd tbqãZÏB÷sßJø9$# $y)ym 4 öNçl°;ìM»y_uy yYÏã óOÎgÎn/u ×otÏÿøótBur ×-øÍur ÒOÌ2 ÇÍÈ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya,
bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari
rizki yang kami berikan kepada me-reka. Itulah orang-orang yang beriman dengan
sebenar-benar-nya.” (Al-Anfal: 2-4)
Keimanan memiliki satu ciri
yang sangat khas, yaitu dinamis. Yang mayoritas ulama memandang keImanan
beriringan dengan amal soleh, sehinga mereka menganggap keImanan akan bertambah
dengan bertambahnya amal soleh. Akan tetapi ada sebagaian ulama yang melihat
Iman berdasarkan sudut pandang bahwa ia merupakan aqidah yang tidak menerima
pemilahan (dikotomi). Maka seseorang hanya memiliki dua kemungkinan saja:
mukmin atau kafir, tidak ada kedudukan lain diantara keduanya. Karena itu
mereka berpendapat Iman tidak bertambah dan tidak berkurang.
Iman
adakalanya bertambah dan adakalanya berkurang, maka perlu diketahui kriteria
bertambahnya Iman hingga sempurnanya Iman, yaitu:
1)
Diyakini dalam hati
2)
Diucapkan dengan
lisan
3)
Diamalkan dengan anggota tubuh.
Sedangkan
dalam Islam sendiri jika membahas mengenai Iman tidak akan terlepas dari adanya
rukun Iman yang enam, yaitu:
1)
Iman kepada Allah
2)
Iman kepada malaikatNya
3)
Iman kepada kitabNya
4)
Iman kepada rasulNya
5)
Iman kepada Qodho dan Qodar
6)
Iman kepada hari akhir (Kiamat)
Demikianlah kriteria amalan
hati dari pribadi yang beriman, yang jika telah
tertanam dalam hati seorang mukmin enam keImanan itu maka akan secara otomatis
tercermin dalam prilakunya sehari-hari yang sinergi dengan kriteria keImanan
terhadap enam poin di atas. Jika Iman adalah suatu keadaan yang bersifat
dinamis, maka sesekali didapati kelemahan Iman, maka yang harus kita lakukan
adalah memperkuat segala lini dari hal-hal yang dapat memperkuat Iman kembali.
Hal-hal yang dapat dilakukan bisa kita mulai dengan memperkuat aqidah, serta
ibadah kita karena Iman bertambah karena taat dan berkurang karena maksiat.
Ketika
Iman telah mencapai taraf yang diinginkan maka akan dirasakan oleh pemiliknya
suatu manisnya Iman, sebagaImana hadits Nabi Muhammad saw. yang artinya: “Tiga
perkara yang apabila terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan merasakan
manisnya Iman: Menjadikan Alloh dan RosulNya lebih dicintainya melebihi dari
selain keduanya, mencintai seseorang yang tidak dicintainya melainkan karena
Alloh, membenci dirinya kembali kepada kekufuran sebagaImana bencinya ia
kembali dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR.Bukhori Muslim).
2. Hakikat
Islam
Islam berasal dari kata, as-salamu, as-salmu,
dan as-silmu yang berarti: menyerahkan diri, pasrah, tunduk,
dan patuh. Berasal dari kata as-silmu atau as-salmu yang
berarti damai dan aman. Berasal dari kata as-salmu, as-salamu, dan as-salamatu
yang berarti bersih dan selamat dari kecacatan-kecacatan lahir dan batin.
Pengertian Islam menurut istilah yaitu, sikap penyerahan diri (kepasrahan,
ketundukan, kepatuhan) seorang hamba kepada Tuhannya dengan senantiasa
melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, demi mencapai kedamaian dan
keselamatan hidup, di dunia maupun di akhirat. Siapa saja yang menyerahkan diri
sepenuhnya hanya kepada Alloh, maka ia seorang muslim, dan barang siapa yang
menyerahkan diri kepada Alloh dan selain Alloh maka ia seorang musyrik,
sedangkan seorang yang tidak menyerahkan diri kepada Alloh maka ia seorang
kafir yang sombong. Dalam
pengertian kebahasan ini, kata Islam dekat dengan arti kata agama. Senada
dengan hal itu Nurkholis Madjid berpendapat bahwa sikap pasrah kepada Tuhan
adalah merupakan hakikat dari pengertian Islam. Dari pengertian itu, seolah
Nurkholis Madjid ingin mengajak kita memahami Islam dari sisi manusia sebagai
yang sejak dalam kandungan sudah menyatakan kepatuhan dan ketundukan kepada
Tuhan, sebagaImana yang telah diisyaratkan dalam surat al-A’rof ayat 172
yang artinya:
øÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPy#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJÍhè öNèdypkôr&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr&(#qä9qà)s? tPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ
“Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah
Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi
saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)”
Berkaitan dengan Islam
sebagai agama, maka tidak dapat terlepas dari adanya unsur-unsur pembentuknya
yaitu berupa rukun Islam, yaitu:
1) Membaca
dua kalimat Syahadat
2) Mendirikan
sholat lima waktu
3) Menunaikan
zakat
4) Puasa
Romadhon
5) Haji
ke Baitulloh jika mampu.
3.
Hakikat Ihsan
Ihsan berarti berbuat baik.
Orang yang berbuat Ihsan disebut muhsin berarti orang yang berbuat baik.setiap
perbuatan yang baik yang nampak pada sikap jiwa dan prilaku yang sesuai atau
dilandaskan pada aqidah dan syariat Islam disebit Ihsan. Dengan demikian akhlak
dan Ihsan adalah dua pranata yang berada pada suatu sistem yang lebih besar
yang disebut akhlaqul karimah. Adapun dalil mengenai
Ihsan dari hadits adalah potongan hadits Jibril yang sangat terkenal (dan
panjang), seperti yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, ketika nabi ditanya
mengenai Ihsan oleh malaikat Jibril dan nabi menjawab:
…أَنْ تَعْبُدَ
اللّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإنَّهُ يَرَاكَ…
“…Hendaklah
engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihatNya. Tapi jika engkau
tidak melihatNya, maka sesungguhnya Alloh melihatmu…..
Hadits tersebut menunjukan bahwa untuk
melakukan Ihsan, sebagai rumusnya adalah memposisikan diri saat beribadah
kepada Alloh seakan-akan kita bisa melihatNya, atau jika belum bisa
memposisikan seperti itu maka posisikanlah bahwa kita selalu dilihat olehNya
sehingga akan muncul kesadaran dalam diri untuk tidak melakukan tindakan
selain berbuat Ihsan atau berbuat baik.
2.2. Hubungan
antara Iman,
Islam, dan Ihsan
Diatas telah dibahas tentang ketiga hal
tersebut, disini, akan dibahas hubungan timbal balik antara ketiganya.
Iman yang merupakan landasan awal, bila diumpamakan sebagai pondasi dalam
keberadaan suatu rumah, sedangkan islam merupakan entitas yang berdiri
diatasnya. Maka, apabila iman seseorang lemah, maka islamnya pun akan condong,
lebih lebih akan rubuh. Dalam realitanya mungkin pelaksanaan sholat akan
tersendat-sendat, sehingga tidak dilakukan pada waktunya, atau malah mungkin
tidak terdirikan. Zakat tidak tersalurkan, puasa tak terlaksana, dan lain
sebagainya. Sebaliknya, iman akan kokoh bila islam seseorang ditegakkan. Karena
iman terkadang bisa menjadi tebal, kadang pula menjadi tipis, karena amal
perbuatan yang akan mempengaruhi hati. Sedang hati sendiri merupakan wadah bagi
iman itu. Jadi, bila seseorang tekun beribadah, rajin taqorrub, maka akan
semakin tebal imannya, sebaliknya bila seseorang berlarut-larut dalam
kemaksiatan, kebal akan dosa, maka akan berdampak juga pada tipisnya iman.
Dalam
hal ini, sayyidina Ali pernah berkata :
قال علي كرم الله وجهه إن الإيمان ليبدو لمعة
بيضاء فإذا عمل العبد الصالحات نمت فزادت حتى يبيض القلب كله وإن النفاق ليبدو
نكتة سوداء فإذا انتهك الحرمات نمت وزادت حتى يسود القلب كله
Artinya : Sahabat Ali kw. Berkata
: “Sesungguhnya iman itu terlihat seperti sinar
yang putih, apabila seorang hamba melakukan kebaikan, maka sinar
tersebut akan tumbuh dan bertambah sehingga hati (berwarna) putih.
Sedangkan kemunafikan terlihat seperti titik hitam, maka bila seorang melakukan
perkara yang diharamkan, maka titik hitam itu akan tumbuh dan bertambah hingga
hitamlah (warna) hati”.
Adapun ihsan, bisa
diumpamakan sebagai hiasan rumah, bagaimana rumah tersebut bisa terlihat mewah,
terlihat indah, dan megah. Sehingga padat menarik perhatian dari banyak pihak.
Sama halnya dalam ibadah, bagaimana ibadah ini bisa mendapatkan perhatian dari
sang kholiq, sehingga dapat diterima olehnya. Tidak hanya asal menjalankan
perintah dan menjauhi larangannya saja, melainkan berusaha bagaimana amal
perbuatan itu bisa bernilai plus dihadapan-Nya.
2.3.Keutamaan Iman,
Islam dan Ihsan bagi Manusia
Di
antara perbendaharaan kata dalam agama Islam ialah iman,
Islam dan ihsan.Berdasarkan sebuah hadits, ketiga istilah
itu memberi umat Islam (Sunni) ide tentang Rukun
Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap
Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.Setiap pemeluk Islam mengetahui
dengan pasti bahwa Islam (al-Islam) tidak
absah tanpa iman (al-iman), dan iman tidak
sempurna tanpa ihsan (al-ihsan). Sebaliknya, ihsan
adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin tanpa
inisial Islam. Ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait
satu dengan yang lain, sehingga setiap satu dari ketiga
istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat
Islam dan ihsan, dalam Islam terdapat iman dan
ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari sudut
pengertian inilah kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai
trilogi ajaran Ilahi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
§ Iman adalah ucapan yang
disertai dengan perbuatan diiringi dengan ketulusan niat dan dilandasi dengan
Sunnah.
§ Islam
adalah inisial seseorang masuk ke dalam
lingkaran ajaran Ilahi.
§ Ihsan adalah cara bagaimana
seharusnya kita beribadah kepada Allah.
Islam, Iman dan Ihsan
adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman
adalah keyakinan yang menjadi dasar aqidah. Keyakinan tersebut kemudian
diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun
Islam dilakukan dengan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.
DAFTAR PUSTAKA
AL Kaff Abdullah Zakiy KH. dan Drs. Maman Abdul
Djaliel MUTIARA ILMU TAUHID. CV. PUSTAKA SETIA.
HAMKA, Prof. DR. PELAJARAN AGAMA ISLAM. PT.
BULAN BINTANG.
Hasan, Muhammad Tholhah. Islam dalam Perspektif
Soaial Kultural. Lantabora Press, Jakarta, cet III, 2005
Purnomo, sanggit. Tips cerdas emosi dan spiritual
islami. MPDMKPN, Jakarta, 2010
Yusuf Al- Kandahlawy, Muhammad. Kehidupan para
sahabat rasulullah saw.PT. BINA ILMU, Surabaya, 2007
http://blognya-anak.blogspot.com/2012/10/v-behaviorurldefaulttvmlo.html
http://ichapedeh.wordpress.com/2012/01/25/pengertian-ihsan/
http://wakakak1.blogspot.com/2012/03/kata
-ihsan-berbuat-baik-merupakan.html
http://www.dimensialquran.co.cc/2011/03/iman.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar