Jumat, 03 Juni 2016

IMAN, ISLAM, IHSAN



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Iman, Islam dan Ihsan
1. IMAN
          Kita tidak mungkin menjadi mukmin yang hakiki tanpa mengenal profil nabi kita Muhammad SAW sebab, hanya dengan itu kita tahu bagaimana seharusnya mengamalkan agama islam ini. Membahas tentang perihal iman maka pembahasan tersebut menjurus kepada ilmu tauhid. Ilmu tauhid tidak dapat dipisahkan dengan permasalahan keimanan. Dengan demikian, membahas ilmu tauhid berarti juga menerangkan segala sesuatu tentang keimanan serta rukun-rukunnya sebab yang diisyaratkan dengan tauhid ialah al-iman. Iman berasal dari kata : " ايمان "  merupakan bentuk masdar yang fi’il madhinya adalah امن” Yang menurut lughah (bahasa) artinya adalah :         
صد قه ووثق به  (Membenarkan serta mempercayakan).
Secara etimologi berarti:
اٰمَنَ يُؤْمِنُ اِيْمَانًا -aamana-yu minu-iimaanan = Mengamankan.
اٰمَنَ بِ -aamana bi = Percaya. Menurut para ahli kalam yang termaktub (tercantum) dalam kitab al-a’lamah as-syayid husein affandi al-jisri at-tharabilisi yang berjudul al husunul hamidiyyah, pengertian iman adalah sebagai berikut : “membenarkan apa-apa yang dibawa Rasulullah SAW. Yang diketahui kedatangannya secara pasti, maksudnya tekad membenarkan apa-apa yang dibawa nabi itu dari sisi Allah SWT, yang diketahui secara yakin kedatangannya disertai ketundukan hati.
Menurut Imam Bukhari sendiri, iman adalah:الايمان قول وعمل يزيد وينقص   
(ucapan dan amalan (pekerjaan), bertambah dan berkurang)
          Menanggapi pernyataan beliau tersebut tentang bertambah serta berkurangnya iman di jawab berbeda oleh ulama yang masuk dalam pembahasan ilmu kalam. Apakah benar iman itu bisa bertambah serta bisa pula berkurang?
           Senada dengan pernyataan tersebut imam al-asy’ari menyatakan bahwa iman itu bisa naik serta bisa pula turun. Dapat  bertambah akan tetapi dapat pula berkurang. Pernyataan beliau tersebut menyatakan bahwa bukan pengertian iman secara esensi yang dapat bertambah serta berkurang akan tetapi yang disebutkan beliau itu adalah pengertian iman secara sifat.
           Kemudian menurut Al-bazdawi iman tidak bisa naik maupun turun atau tidak dapat bertambah maupun berkurang. Hanya saja beliau mencontohkan bahwa iman tersebut adalah suatu benda yang terkena cahaya yang mana cahaya tersebut akan membuat bayangan, bayangan benda tersebut dapat berupa bayangan yang sedikit bisa pula berupa bayangan yang banyak sesuai dengan cahaya yang di berikan kepada benda tersebut. Nah jika benda tersebut dimisalkan dengan iman, apakah benda tadi dengan sendirinya bisa bertambah serta bisa berkurang? Tentu tidak bukan, karena yang dapat bertambah serta berkurang adalah bayangan dari benda tersebut dan bayangan itulah yang dimaksudkan sebagai iman yang bisa bertambah dan berkurang.
           Seseorang yang telah beriman wajib menjaga keimanannya dari segala perbuatan buruk yang akan mengakibatkan rusaknya iman tersebut. Iman itu belumlah cukup apabila hanya diucapkan dengan lidah saja, tetapi harus disertai dengan amal saleh, yaitu melaksanakan semua perintah syari’ah agama. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW.: “Iman ialah kepercayaan (diyakini) di dalam hati, ditetapkan (diucapkan) dengan lidah, dan dilaksanakan dengan anggota badan (perbuatan).”
Ada pula riwayat hadits yang menjelaskan tentang keagungan iman, seperti riwayat berikut.
           Dikeluarkan oleh Bukhari (6443) dan Muslim (94) dari Abi Dzar r.a. ia berkata: “pada suatu malam aku keluar rumah, tba-tiba kulihat Rasulullah s.a.w. berjalan sendirian tidak ada seorangpun yang bersamanya, lalu aku berkata dalam hati: mungkin Rasulullah saw. Ingin sendirian, “ Abu Dzar r.a. berkata “ aku kemudian berjalan di bawah bayang-bayang rembulan, Rasulullah saw. Menoleh dan melihatku, “kemudian berkata: “siapakah ini?”, aku menjawab: ” aku Abu Dzar, “ beliau berkata: “ wahai Abu Dzar kemarilah,” abu dzar r.a. berkata: “ lalu aku berjaalan bersamanya sejam lamanya, “ maka beliau bersabda: “ sesungguhnya orang yang memperbanyakharta didunia mereka itulah yang akan kemiskinan pada hari kiamat, kecuali orang yang diberi kebaikan oleh Allah subhanahu wa taala, hingga ia membelanjakan hartanya dari samping kanan, kiri, dari depan, belakang dan selalu berbuat kebaikan, : Abu Dzar berkata: “ aku berjalan bersama beliau sejam lamanya”, kemudian beliau berkata kepadaku: “duduklah di sini! “, Abu Dzar berkata: “Rasulullah saw. Menyuruhku duduk di sebuah tempat luas yang dipenuhi dengan batu, “ beliau berkata: “ tunggu di sini sampai aku kembali,” Abu Dzar r.a. berkata: “Rasulullah saw. Pergi ke sebuah tempat yang  dipenuhi batu hitam, hingga aku tidak melihatnya, dan akupun lama menunggu beliau,  tidak lama kemudian aku mendengar suaranya ketika hendak dekat padaku, “ setelah datang dan aku tidak sabar aku langsung bertanya kepadanya: “wahai nabi Allah ! dengan siapa kau berbicara disana?: ”, aku tidak mendengar seorangpun yang menjawabmu?, beliau menjawab: “ itu Jibril yang sedang datang dengan membawa wahyu “, ia berkata kepadaku: “ Wahai Muhammad! Berilah kabar gembira umatmu dengan surga bagi siapapun yang mati dan tidak berbuat syirik kepada Allah sekalipun,“ lalu aku bertanya: “ Wahai Jibril! Meski ia melakukan zina dan mencuri? “, Jibril menjawab: “Ya”, aku (Abu Dzar) bertanya: “ wahai Rasulullah! Meski berzina dan mencuri?”, beliau menjawab: “Benar”, aku bertanya lagi:” meski berzina dan mencuri?”, kemudian beliau menjawab: “ Ya, meskipun ia meminum khomer (minuman keras)”. (demikian disebutkan dalam jam’ul fawaid jilid 1 hal 7, dan ada tambahan dalam Riwayat Bukhari, Muslim Dan Tarmidzi dalam pertanyaan keempat: “ meski kau tidak bisa menerimanya wahai Abu Dzar”)
           Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa setiap orang beriman harus mengamalkan keimanannya dalam perbuatan lahiriah dan batiniah (keyakinan hati yang didasari oleh keikhlasan). Bila tidak demikian, maka keimannya belum sempurna.

2. ISLAM
        Islam berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang secara kebahasaan berarti 'Menyelamatkan'. beberapa istilah terpenting dalam pemahaman mengenai keislaman, yaitu Islam dan Muslim. Kesemuanya berakar dari kata Salam yang berarti kedamaian. Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab Aslama, yang bermakna "untuk menerima, menyerah atau tunduk" dan dalam pengertian yang lebih jauh kepada Tuhan.
        Pengertian Islam bisa kita bedah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek peristilahan. Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim.
        Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah.
        Adapun pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi menganal berbagai segi dari kehidupan manusia. Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah.Kemudian, menurut Hamka setelah manusia menerawang, berfikir, merenung, membanding, mengukur, menjangka, pendeknya memfilosof, akhirnya sampailah dia di ujung perjalanan. Di dinding yang tidak tersebrangi itu. Segala macam telah dicobanya. Akhirnya yakinlah dia bahwa memang ada sesuatu itu,dialah yang Mutlak, Dialah Yang Maha Kuasa, Dialah puncak (kata plato). Dialah Tao, yang tak dapat diberi nama (kata Lao Tze). Maka insyaflah manusia akan kelemahan dirinya, dan insyaf  akan kemaha besarnya yang ada itu. Maka menyerahlah dia dengan segala rela hati. Penyerahan yang demikian dalam bahasa arab dinamai Islam.
Dari pengertian Islam tersebut, adanya 3 aspek, yaitu:
a.      Aspek vertikal
Mengatur antara makhluk dengan kholiknya (manusia dengan Tuhannya). Dalam hal ini manusia bersikap berserah diri pada Allah.
b.      Aspek horizontal
Mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. Islam menghendaki agar manusia yang satu menyelamatkan, menentramkan dan mengamankan manusia yang lain.
c.        Aspek batiniah
Mengatur ke dalam orang itu sendiri, yaitu supaya dapat menimbulkan kedamaian, ketenangan batin maupun kemantapan rohani dan mental.
Allah SWT bersabda:
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetian islam adalah sebuah agama yang tidak membebani tidak pula memanjakan pemeluknya ( agama pertengahan) yang mana tanpa ada paksaan untuk pemeluknya  menyerah atau tunduk sesuai dengan fitrahnya dan selamatlah mereka yang taat serta benar-benar memegangnya.

3.       IHSAN
            Ihsan adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.” Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya. Ihsan ialah melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati karena menyadari bahwa Allah selalu melihatnya, hingga ia merasakan berhadapan langsung dengan Allah dan bahkan ia melihat Allah SWT dengan hati nurani. Semua itu dilakukannya dengan ikhlasSeseorang tidak akan merasakan nikmatnya ibadah apabila dia tidak merasa melihat dengan tuhannya. Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
 sesungguhnya Allah mewajibkan al-Ihsan dalam segala masalah, oleh karena itu jika kalian berperang harus dengan satria, dan jika menyembelih binatang pun harus dengan cara yang baik (tidak sadis)”.
     Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di Rahimahullah menjelaskan bahwa ihsan mencakup dua macam, yakni ihsan dalam beribadah kepada Allah dan ihsan dalam menunaikan hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi oleh-Nya.
Sedangkan ihsan dalam hak makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu:
a.    Wajib
Yang hukumnya wajib, misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah.
b.   Sunnah    
Yang hukumnya sunnah, misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang. Salah satu bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada kita, baik dengan ucapan atau perbuatannya.
1.      Hakikat iman
Iman adalah keyakinan yang menghujam dalam hati, kokoh penuh keyakinan tanpa dicampuri keraguan sedikitpun. Sedangkan keimanan dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rosul-rosulNya, hari akhir dan berIman kepada takdir baik dan buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan lisan, amal hati dan amal lisan serta amal anggota tubuh. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Kedudukan Iman lebih tinggi dari pada Islam, Iman memiliki cakupan yang lebih umum dari pada cakupan Islam, karena ia mencakup Islam, maka seorang hamba tidaklah mencapai keimanan kecuali jika seorang hamba telah mamapu mewujudkan keislamannya. Iman juga lebih khusus dipandang dari segi pelakunya, karena pelaku keimanan adalah kelompok dari pelaku keIslaman dan tidak semua pelaku keIslaman menjadi pelaku keimanan, jelaslah setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.
     Keimanan tidak terpisah dari amal, karena amal merupakan buah keImanan dan salah satu indikasi yang terlihat oleh manusia. Karena itu Alloh menyebut Iman dan amal soleh secara beriringan dalam Qur’an surat Al Anfal ayat 2-4 yang artinya: Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
$yJ¯RÎ) šcqãZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# #sŒÎ) tÏ.茠ª!$# ôMn=Å_ur öNåkæ5qè=è% #sŒÎ)ur ôMuÎ=è? öNÍköŽn=tã ¼çmçG»tƒ#uä öNåkøEyŠ#y $YyÎ) 4n?tãur óOÎgÎn/utbqè=©.uqtGtƒ ÇËÈ šúïÏ%©!$# šcqßJ‹É)ムno4qn=¢Á9$# $£JÏBur öNßuZø%yu tbqà)ÏÿZムÇÌÈ y7Í´¯»s9'ré& ãNèd tbqãZÏB÷sßJø9$# $y)ym 4 öNçl°;ìM»y_uyŠ yYÏã óOÎgÎn/u ×otÏÿøótBur ×-øÍur Ò̍Ÿ2 ÇÍÈ
 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada me-reka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar-nya.” (Al-Anfal: 2-4)
     Keimanan memiliki satu ciri yang sangat khas, yaitu dinamis. Yang mayoritas ulama memandang keImanan beriringan dengan amal soleh, sehinga mereka menganggap keImanan akan bertambah dengan bertambahnya amal soleh. Akan tetapi ada sebagaian ulama yang melihat Iman berdasarkan sudut pandang bahwa ia merupakan aqidah yang tidak menerima pemilahan (dikotomi). Maka seseorang hanya memiliki dua kemungkinan saja: mukmin atau kafir, tidak ada kedudukan lain diantara keduanya. Karena itu mereka berpendapat Iman tidak bertambah dan tidak berkurang.
Iman adakalanya bertambah dan adakalanya berkurang, maka perlu diketahui kriteria bertambahnya Iman hingga sempurnanya Iman, yaitu:
1)   Diyakini dalam hati
2)   Diucapkan dengan lisan          
3)   Diamalkan dengan anggota tubuh.
Sedangkan dalam Islam sendiri jika membahas mengenai Iman tidak akan terlepas dari adanya rukun Iman yang enam, yaitu:
1)   Iman kepada Allah
2)   Iman kepada malaikatNya
3)   Iman kepada kitabNya
4)   Iman kepada rasulNya
5)   Iman kepada Qodho dan Qodar
6)   Iman kepada hari akhir (Kiamat)
     Demikianlah kriteria amalan hati dari pribadi yang beriman, yang jika telah tertanam dalam hati seorang mukmin enam keImanan itu maka akan secara otomatis tercermin dalam prilakunya sehari-hari yang sinergi dengan kriteria keImanan terhadap enam poin di atas. Jika Iman adalah suatu keadaan yang bersifat dinamis, maka sesekali didapati kelemahan Iman, maka yang harus kita lakukan adalah memperkuat segala lini dari hal-hal yang dapat memperkuat Iman kembali. Hal-hal yang dapat dilakukan bisa kita mulai dengan memperkuat aqidah, serta ibadah kita karena Iman bertambah karena taat dan berkurang karena maksiat.
     Ketika Iman telah mencapai taraf yang diinginkan maka akan dirasakan oleh pemiliknya suatu manisnya Iman, sebagaImana hadits Nabi Muhammad saw. yang artinya: “Tiga perkara yang apabila terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya Iman: Menjadikan Alloh dan RosulNya lebih dicintainya melebihi dari selain keduanya, mencintai seseorang yang tidak dicintainya melainkan karena Alloh, membenci dirinya kembali kepada kekufuran sebagaImana bencinya ia kembali dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR.Bukhori Muslim).
2.      Hakikat Islam
Islam berasal dari kata, as-salamuas-salmu, dan as-silmu yang berarti: menyerahkan diri, pasrah, tunduk, dan patuh. Berasal dari kata as-silmu atau as-salmu yang berarti damai dan aman. Berasal dari kata as-salmu, as-salamu, dan as-salamatu yang berarti bersih dan selamat dari kecacatan-kecacatan lahir dan batin. Pengertian Islam menurut istilah yaitu, sikap penyerahan diri (kepasrahan, ketundukan, kepatuhan) seorang hamba kepada Tuhannya dengan senantiasa melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, demi mencapai kedamaian dan keselamatan hidup, di dunia maupun di akhirat. Siapa saja yang menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Alloh, maka ia seorang muslim, dan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Alloh dan selain Alloh maka ia seorang musyrik, sedangkan seorang yang tidak menyerahkan diri kepada Alloh maka ia seorang kafir yang sombong. Dalam pengertian kebahasan ini, kata Islam dekat dengan arti kata agama. Senada dengan hal itu Nurkholis Madjid berpendapat bahwa sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian Islam. Dari pengertian itu, seolah Nurkholis Madjid ingin mengajak kita memahami Islam dari sisi manusia sebagai yang sejak dalam kandungan sudah menyatakan kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan, sebagaImana yang telah diisyaratkan dalam surat al-A’rof ayat 172 yang artinya:
øŒÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJ­ƒÍh茠öNèdypkô­r&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr&(#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyuŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)
     Berkaitan dengan Islam sebagai agama, maka tidak dapat terlepas dari adanya unsur-unsur pembentuknya yaitu berupa rukun Islam, yaitu:
1)      Membaca dua kalimat Syahadat
2)      Mendirikan sholat lima waktu
3)      Menunaikan zakat
4)      Puasa Romadhon
5)      Haji ke Baitulloh jika mampu.


       3. Hakikat Ihsan
       Ihsan berarti berbuat baik. Orang yang berbuat Ihsan disebut muhsin berarti orang yang berbuat baik.setiap perbuatan yang baik yang nampak pada sikap jiwa dan prilaku yang sesuai atau dilandaskan pada aqidah dan syariat Islam disebit Ihsan. Dengan demikian akhlak dan Ihsan adalah dua pranata yang berada pada suatu sistem yang lebih besar yang disebut akhlaqul karimah. Adapun dalil mengenai Ihsan dari hadits adalah potongan hadits Jibril yang sangat terkenal (dan panjang), seperti yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, ketika nabi ditanya mengenai Ihsan oleh malaikat Jibril dan nabi menjawab:
أَنْ تَعْبُدَ اللّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإنَّهُ يَرَاكَ
“…Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihatNya. Tapi jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Alloh melihatmu…..
Hadits tersebut menunjukan bahwa untuk melakukan Ihsan, sebagai rumusnya adalah memposisikan diri saat beribadah kepada Alloh seakan-akan kita bisa melihatNya, atau jika belum bisa memposisikan seperti itu maka posisikanlah bahwa kita selalu dilihat olehNya sehingga akan muncul kesadaran dalam diri untuk tidak melakukan tindakan selain berbuat Ihsan atau berbuat baik.

2.2. Hubungan antara Iman, Islam, dan Ihsan
Diatas telah dibahas tentang ketiga hal tersebut, disini, akan dibahas hubungan timbal balik  antara ketiganya. Iman yang merupakan landasan awal,  bila diumpamakan sebagai pondasi dalam keberadaan suatu rumah, sedangkan islam merupakan entitas yang berdiri diatasnya. Maka, apabila iman seseorang lemah, maka islamnya pun akan condong, lebih lebih akan rubuh. Dalam realitanya mungkin pelaksanaan sholat akan tersendat-sendat, sehingga tidak dilakukan pada waktunya, atau malah mungkin tidak terdirikan. Zakat tidak tersalurkan, puasa tak terlaksana, dan lain sebagainya. Sebaliknya, iman akan kokoh bila islam seseorang ditegakkan. Karena iman terkadang bisa menjadi tebal, kadang pula menjadi tipis, karena amal perbuatan yang akan mempengaruhi hati. Sedang hati sendiri merupakan wadah bagi iman itu. Jadi, bila seseorang tekun beribadah, rajin taqorrub, maka akan semakin tebal imannya, sebaliknya bila seseorang berlarut-larut dalam kemaksiatan, kebal akan dosa, maka akan berdampak juga pada tipisnya iman.
Dalam hal ini, sayyidina Ali pernah berkata :
قال علي كرم الله وجهه إن الإيمان ليبدو لمعة بيضاء فإذا عمل العبد الصالحات نمت فزادت حتى يبيض القلب كله وإن النفاق ليبدو نكتة سوداء فإذا انتهك الحرمات نمت وزادت حتى يسود القلب كله
Artinya : Sahabat Ali kw. Berkata : Sesungguhnya iman itu terlihat seperti sinar yang  putih, apabila seorang hamba melakukan kebaikan, maka sinar tersebut  akan tumbuh dan bertambah sehingga hati (berwarna) putih. Sedangkan kemunafikan terlihat seperti titik hitam, maka bila seorang melakukan perkara yang diharamkan, maka titik hitam itu akan tumbuh dan bertambah hingga hitamlah (warna) hati
       Adapun ihsan, bisa diumpamakan sebagai hiasan rumah, bagaimana rumah tersebut bisa terlihat mewah, terlihat indah, dan megah. Sehingga padat menarik perhatian dari banyak pihak. Sama halnya dalam ibadah, bagaimana ibadah ini bisa mendapatkan perhatian dari sang kholiq, sehingga dapat diterima olehnya. Tidak hanya asal menjalankan perintah dan menjauhi larangannya saja, melainkan berusaha bagaimana amal perbuatan itu bisa bernilai plus dihadapan-Nya.
2.3.Keutamaan Iman, Islam dan Ihsan bagi Manusia
       Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman, Islam dan ihsan.Berdasarkan  sebuah  hadits, ketiga istilah itu memberi  umat  Islam  (Sunni)  ide  tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.Setiap pemeluk Islam mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (al-Islam) tidak absah tanpa iman (al-iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan (al-ihsan). Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin  tanpa  inisial  Islam. Ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait satu  dengan  yang  lain, sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam  dan ihsan,  dalam  Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.



BAB III
PENUTUP

 Kesimpulan
          
§ Iman adalah ucapan yang disertai dengan perbuatan diiringi dengan ketulusan niat dan dilandasi dengan Sunnah.
§ Islam adalah  inisial  seseorang  masuk  ke dalam  lingkaran  ajaran  Ilahi.
§ Ihsan adalah cara bagaimana seharusnya kita beribadah kepada Allah.
Islam, Iman dan Ihsan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar aqidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.


DAFTAR PUSTAKA
AL Kaff Abdullah Zakiy KH. dan Drs. Maman Abdul Djaliel MUTIARA ILMU TAUHID. CV. PUSTAKA SETIA.
HAMKA, Prof. DR. PELAJARAN AGAMA ISLAM. PT. BULAN BINTANG.
Hasan, Muhammad Tholhah. Islam dalam Perspektif Soaial Kultural. Lantabora Press, Jakarta, cet III, 2005
Purnomo, sanggit. Tips cerdas emosi dan spiritual islami. MPDMKPN, Jakarta, 2010
Yusuf Al- Kandahlawy, Muhammad. Kehidupan para sahabat rasulullah saw.PT. BINA ILMU, Surabaya, 2007
http://blognya-anak.blogspot.com/2012/10/v-behaviorurldefaulttvmlo.html
http://ichapedeh.wordpress.com/2012/01/25/pengertian-ihsan/          
http://wakakak1.blogspot.com/2012/03/kata -ihsan-berbuat-baik-merupakan.html
http://www.dimensialquran.co.cc/2011/03/iman.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar